Istoria da Paz : Perempuan dalam Perjalanan

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Okke "Sepatumerah"

Awalnya gw pikir ini buku travelling, pas baca resensinya ternyata romance fiction more like chicklit. Mmm… tertarik sama resensi di belakang buku maka gw beli lah. 


Tentang Damai Priscillia, editor novel. Cerita bermula dengan masalah perselingkungan teman hidup Damai, si Jambrong yang selama ini menderita gamophobia (fobia pada pernikahan). Di awal cerita gw sempet boring karena Okke menggambarkan Arimbi, gadis yang novelnya sedang di edit Damai (sekaligus selingkuhan jambrong) dengan sangat “sinis”, maksudnya Arimbi ini sinis abeeeeees. Bosen deh dengan penggambaran karakter yang seperti ini.


Apalagi kalo sinismenya (ada ga sih kata “sinisme”?  )  adalah soal pandangan tentang pernikahan.


Cerita berlanjut ketika Okke, sang penulis menggambarkan betapa sakitnya hati perempuan yang dikhianati dengan kata-kata dan kiasan yang pas *Hell yeah*



Damai merasakan kepedihan yang luar biasa dalam, kesepian menjadi benda yang berduri tajam, menyakiti hati, jiwa dan tubuh.


Dalam keadaan seperti itu Damai mendapat tugas dari perusahaan tempat dia bekerja untuk melakukan sebuah perjalanan tugas riset untuk membukukan kisah tentang Sekolah Damai, sebuah sekolah camp pengungsi Timor Leste (kebetulan kok namanya sama ya dengan tokoh di novel ini) milik Dionysius Alexander yang terletak sekitar 1 jam perjalanan dari Kupang.



Dionysius Alexander adalah seorang lulusan Universitas Negeri Indonesia yang lebih memilih untuk meninggalkan kota besar untuk berada di tengah-tengah anak-anak pasca- konflik dan memikirkan pendidikan mereka.
Dalam perjalanan liputannya inilah, Damai dan kita sebagai pembaca diajak untuk melihat sisi bumi yang lain, yang sangat berbeda dengan yang kita lihat sehari-hari. Bumi yang masih jauh dari modernisasi. Rumah-rumah di sana menyerupai gubuk beratap daun lontar dan berdinding bebak (potongan pelepah batang lontar).


Bersama Dion dan anak-anak pengungsi setiap hari membuat Damai banyak belajar tentang kehidupan, tentang kebahagiaan. Seperti kata Dion, bahagia itu tidak perlu dicari, karena dia memang telah ada, di depan mata kita sendiri. Bisa saja hanya dengan mengubah sudut pandang kehidupan, bahagia yang tadinya tidak kelihatan, jadi terlihat jelas. Dan kunci kebahagiaan adalah hati yang bersyukur. Kalau kita bersyukur dengan apa yang kita punya, maka bahagia akan menyusul.


Tiba saatnya Damai harus kembali ke Jakarta. Ketika beberapa bulan kemudian buku yang berjudul Sekolah Damai: Asa Bagi Anak-anak Pengungsi di launch, Dion berkesempatan ke Jakarta dan bertemu kembali dengan Damai.
Akhirnya Damai mengikuti kata hatinya, merelakan Jambrong, resign dari perusahaan penerbitan dan kembali ke Kupang, mengajar anak-anak pengungsi.


Perjalanannya ke sekolah Damai telah mengubah sudut pandangnya tentang kehidupan.


 
bagus buat referensi org yg baru patah hati
hehehehe


Morel of the story:


Tukang selingkuh ke laut ajah, not worthed, move on and grab a hot hunk


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada yang mo pasang kawat gigi?

i could never be your woman

Sambara di Jakarta! :D