Rabu, 08 Oktober 2008

Miskin Sebenarnya

Di forward artikel ini via email dari nat, pas banget lagi gundah gulana.
Ikutan aa’ Jenk, ayu harus belajar bersyukur lebih banyak lagi

*artikel diambil dari sini


Miskin Sebenarnya

Orang yang berpakaian lusuh, kusam, atau bahkan sobek di beberapa bagiannya. Mereka yang tak memiliki pakaian selain yang melekat di tubuhnya, bahkan orang-orang yang memanfaatkan bekas karung terigu untuk dijadikan pakaian, apakah mereka yang dikategorikan orang miskin?

Orang-orang yang tak memiliki cukup makanan untuk disantap setiap hari, yang kebingungan setelah sarapan pagi siang nanti tidak tahu harus makan apa, atau mereka yang tidak yakin apakah esok hari masih ada makanan untuk disantap. Orang-orang yang hanya bertemu makanan satu kali dalam sehari, atau mereka yang terpaksa berpuasa berhari-hari karena tidak ada uang untuk membeli sedikit makanan. Inikah yang disebut miskin?

Anak-anak yatim dan terlantar di banyak panti asuhan, atau anak-anak yang berkeliaran di jalanan mencari makan di usia mereka yang masih belia. Para pengamen jalanan, tukang koran, tukang semir sepatu, pedagang asongan, yang penghasilan mereka lebih kecil dari uang jajan anak-anak di sekolah elit dan terpadu. Miskinkah mereka?

Tukang gali, buruh bangunan, buruh angkut di pasar, penyapu jalanan, pengais dan tukang angkut sampah, tukang becak, tukang ojeg, supir angkot, kondektur bis, serta semua pekerja kasar lainnya, benarkah mereka komunitas orang-orang miskin?

Anak-anak penderita gizi buruk, orang-orang yang sakit bertahun-tahun tak kunjung sembuh karena tak pernah bisa membeli obat, orang-orang yang memiliki banyak hutang dan tak sanggup membayarnya meski harus menyicil, mereka yang kerap mengantri pembagian jatah sembako, atau warga yang masuk dalam daftar penerima dana bantuan langsung tunai (BLT), miskin sesungguhnya?

Sebuah keluarga yang puluhan tahun berpindah-pindah kontrakan lantaran terlalu sering diusir pemilik kontrakan karena tak sanggup membayar, keluarga lainnya yang bahkan untuk mengontrak pun tak sanggup, atau mereka yang memilih mendirikan gubuk-gubuk di daerah kumuh atau tempat pembuangan sampah. Layakkah disebut miskin?

Yang tidak punya handphone, tidak pernah makan pizza, tidak tahu rasanya ayam crispy merk terkenal, yang tak pernah tahu jenis makanan terdaftar di restoran karena nama dan bentuknya sangat asing, tidak pernah ke bioskop, bahkan tidak punya televisi di rumah mereka, ini yang dibilang miskin?

Orang-orang yang tak memiliki satu jenis pun kendaraan meski hanya sebatang sepeda, yang setiap hari mengukur jalan terpanggang matahari, tak pernah merasakan sejuknya pengatur udara (air conditioner) di dalam mobil, yang celingak-celinguk jika masuk ke gedung bertingkat atau hotel, yang cuma bisa bengong di dalam Mall atau pusat perbelanjaan karena mereka hanya bisa bermimpi memiliki barang-barang yang terpajang di etalase, yang seperti inikah miskin itu?

***

Bukan. Sepanjang mereka tak merasa miskin, selama mereka selalu merasa cukup dengan apa yang dimiliki, semasa rasa syukur selalu menjadi kekuatan utama dalam menjalani kehidupan, dan menjadikan Allah satu-satunya tempat bergantung dan meminta, mereka adalah orang-orang kaya.

Tidak. Selagi mereka tak cepat putus asa, tak selalu mengeluh dan menangisi nasib, tak mengemis dan selalu berharap belas kasihan dari orang lain, tak menjadikan dirinya beban bagi orang lain, mereka justru sangat kaya.

Miskin sebenarnya, mereka yang tak bersyukur atas setiap nikmat yang didapatinya, yang tak pernah merasa cukup dan selalu ingin hidup berlebih. Teramat banyak, mereka yang terlihat berlimpah harta tetapi sesungguhnya jauh lebih miskin dari orang-orang yang sering disebut miskin. (gaw)

penulis : Bayu Gawtama


24 komentar:

  1. daaaalaaammmmm benerrr.................. thx!

    BalasHapus
  2. hhhhmmmmmmmm.....

    gw pikir sama dengan

    "apakah jika kita bisa masuk univ unggulan, apakah berarti kita pintar?
    kalo gw kerja di tempat yang mentereng, apakah gw lebih hebat dari orang lain?"

    gw pikir kayak gitu
    jawabannya , tentu saja tidak!

    tapi segala sesuatu butuh standar

    Indonesia punya standar kemiskinan
    dunia punya standar yang berbeda
    WHO juga punya standar tersendiri

    tujuan utama bukan pengkotakan
    bahwa yang satu lebih baik dari yang laen

    tapi itu untuk menghitung jumlah orang2 yang perlu dibantu
    atau hidup di bawah garis kemiskinan
    secara teori seperti itu
    walopun dalam praktek menjadi berbeda

    walopun sebenarnya, antara miskin dengan "merasa" miskin itu berbeda
    yang penting khan happy.........
    wakakakaka...........

    BalasHapus
  3. se-7 !
    semoga aku, kamu, kita, tidak termasuk di dalamnya yaaah ?????
    amiiiin :)

    BalasHapus
  4. Amiennnnnnn ya Robbal Alamiennnnnnnnnnnnnnnn *hugs*

    BalasHapus
  5. Mau belajar supaya bisa seperti ini...Amien InsyaAlloh ;)

    BalasHapus
  6. Setujuh Saya..lam kenal eniweu ;D

    BalasHapus
  7. nice read banget simple to remind... bersyukur...apa pun adanya AMIN YA ALLAH AMIN.... ^__^ *kangenkalianhugsya*

    BalasHapus
  8. yeppp, bener banget nieh .... se7

    BalasHapus
  9. wah tulisannya mas bayu.. pantes keren!

    BalasHapus
  10. hUA...Bayu Gawtama yah..dah baca beberapa bukunya..
    asli tulisannya selalu bikin kita mikir akan arti kehidupan yang lalu, sedang dan akan kita jalanin =D

    BalasHapus
  11. Tulisan yang bagus en menggugah hati gw yg sedang gundah gulana juga :)

    Thanks 4 sharing. Gw mo mencoba menjadi org yang lebih bersyukur en be happy

    BalasHapus
  12. @pacarkecilku: stujuh bangettt

    akuw suka tulisan2nya mas gaw, simple, tdk menceramahi tp nanceppp bgt dihati

    ya Allah...jgn jadikan kami org2 yg kufur akan nikmat-MU....

    BalasHapus
  13. happy sebagai manifestasi dari rasa bersyukur yah

    BalasHapus
  14. *tos*

    btw...cie headshootnya :)

    BalasHapus
  15. gw malah blm baca bukunya yu

    pingin juga

    BalasHapus
  16. sama-sama

    insyaallah kitabelajar bareng ya myr

    BalasHapus