Jumat, 30 Januari 2009

ketika mimpi mulai menjadi nyata

Suatu hari saya terpaku di depan monitor memandangi setumpuk dokumen outstanding yang sepertinya gak makin surut malah makin menggunung.

Kembali ke dunia nyata setelah 5 hari liburan di padang-bukittinggi-sikuai.

 

Sepertinya waktu gak ada habisnya disini, diri gak ada sempurnanya disini dan kerjaan gak ada habisnya. Tetangga cubicle saya bilang alhamdulillah masih bisa kesel setiap hari, masih bisa dikejar deadline, masih bisa direpotin anak-anak….. artinya kita masih bisa punya duit nanti akhir bulan.

*cups dini atas kalimat polosnya yang kadang bijak*

 

Sepotong pikiran kembali muncul…

di atas awan beberapa hari yang lalu saya berfikir, tanpa disadari mimpi-mimpi saya perlahan jadi nyata. Simple things kaya: pingin deh nanti kalo udah kerja kantornya di daerah sudirman aja…. Kayanya keren *pikiran anak kecil yang jadi kenyataan*. Pingin deh punya handphone yang bisa ini bisa itu, pingin deh pergi ke sini-ke situ, pingin deh ngerasain ini, melakukan itu…. Hal kecil berupa hayalan baik terucap maupun enggak, bahkan kalo orang jawa bilang nge-batin aja… satu-satu kini jadi kenyataan.

 

Kembali ke monitor, sebuah sms bernada pedas masuk. Status mood langsung berubah jadi bete. Tentang pekerjaan. Seorang teman kerja menegor saya via sms karena (dia bilang) gak enak ngomong langsung. Ia mempertanyakan kinerja saya, sedikit memahami saya, dan menawarkan pengalihan tugas. Sejenak berfikir tiba-tiba bohlam dikepala pun menyala. AHA…. Mungkin ini saya satu keinginan yang akan jadi kenyataan juga. Perkerjaan yang sudah 5 tahun saya pegang mungkin sudah waktunya di lengserkan ke yang lebih junior. Kenapa enggak. Beberapa tahun yang lalu saya pernah bilang sampai kapan yang tiap hari harus terikat dengan ini setiap pagi.

 

Sorenya seorang teman yang lain mem follow up hasil meting minggu lalu, tentang rolling pekerjaan

“ay… kapan gw diajarin?”

cling!!! Pekerjaan lain yang lagi-lagi sudah 5 tahun dipercayakan pada saya sampai jadi trade mark tersendiri, sudah waktunya di lengserkan.

 

Entah ya, beberapa hari ini saya seperti diingatkan. Klise, tapi benar… semua ada waktunya. Jadi gak boleh maksa harus sekarang. Walau seringnya lupa..hehe

Dengan tersenyum saya berwudhu…sambil ngebatin lagi, “ya Allah kalau memang bukan dia yang ada di hati yang akan jadi imam saya, tolong mudahkan ia pergi dari hati. Gantilah ia dengan yang engkau ridhoi. Kalau memang dia, jadikanlah hambamu mampu”

11 komentar:

  1. aamiiin...*ikut berdoa*

    yang penting jarus selalu bersyukur atas apapun yang kita alami ya kan Ay?

    BalasHapus
  2. seneng deh kalo kamu bahagia :)

    BalasHapus
  3. maaci nat >:D<

    muaaaaaaaaach

    BalasHapus
  4. Cerita pekerjaan diatas ndak nyambung denga penutup doanya ;p

    Sebuah keinginan otak dan hati yg tidak sejalan yah *cupz*

    BalasHapus
  5. nyambung dong, intinya ini tentang keinginan gw yang biasanya cuma dibatin dan mulai jadi kenyataan
    yang bawah kan juga keinginan gw....
    tinggal tunggu jalan Allah aja :)

    BalasHapus
  6. Sebagai temen g hanya bs bantu doa semoga keinginan lo soal DIA juga bs menjadi kenyataan ;)

    Mimpi dan berusaha meraih mimpi itu boleh kok, asalkan tidak perlu sampai memaksakan takdir. Sehingga kita jalan ditempat, jgn sampai juga lo mengorbankan hal2 yg terpenting dalam hidup lo untuk mimpi lo itu ;)

    BalasHapus
  7. G edit yahhh ;p

    Memiliki keinginan dan berusaha meriah keinginan itu boleh2 aja kok, selama kita tdk memaksakan keinginan itu untuk jd kenyataan sampai2 kita jalan ditempat dan mengorbankan hal2 yg paling berharga dalam hidup sperti keluarga + persahabatan hanya untuk sebuah keinginan yg belum tentu adalah yg terbaik yg sudah Allah siapkan untuk kita

    *hugs*

    BalasHapus
  8. uhuk-uhuk
    *tiba-tiba batuk* :P

    BalasHapus