Pencipta generasi tangguh


Kita hidup di era dimana kebohongan dimana-mana. Citra jadi nomor satu. Yang penting jadi ga penting. Yang remeh temeh jadi penting.
Kita hidup di era banyak orang kehilangan jati diri. Orang-orang jadi pengeluh, apa yang tidak sesuai keinginannya jadi hal yang salah.
Dan kita hidup di era dimana yang minoritas, walau benar jadi salah. Dan yg salah, bila dianut mayoritas jadi benar.

Semoga kita tidak termasuk di dalamnya.

***

Sesaat setelah saya melahirkan, masuklah saya ke masa-masa baby blues. Gak punya pengalaman, dan kurang dukungan dari orang sekitar. Bawaannya melow aja. Gak punya rasa percaya diri untuk mengurus anak sendiri.
Sampai seorang sahabat saya menasehati "jadi ibu itu harus kuat, tegar, tahan banting. Karena kita punya bayi mungil yang bergantung hidupnya pada kita. Kalo ibunya lemah, gimana nasib anaknya"
Jedeeeer!!!

Dan sayapun tersadar. Semenjak saat itu jadi punya tekad, saya harus kuat. Ini baru bayi mungil. Urusannya masih level awal. Baru butuh perawatan fisik, asi, kasih sayang. Harus kuatlah.
Harus keras kepala sedikit.
Maka sayapun kekeuh sejak itu. Karena saya tau, asi - cuma asi yg dibutuhkan bayi sampai usia 6bulan, maka anak saya cuma saya beri asi. Air putih pun tidak.
Lanjut ke makanan pendamping asi setelah 6 bulan. Saya kekeuh memberikan hanya makanan rumahan yang saya buat sendiri. No makanan instan. No gula-garam sampai usia 1 tahun.
Walau ada aja yg bilang anak saya kurang gendutlah, kurang ini kurang itulah.... Tapi saya punya aturan sendiri.
Soal pengobatan pun begitu. Sebisa mungkin saya usahakan dulu home treatment, kalo bisa jangan dikasih obat2an. Batuk pilek bisa berkurang dengan dijemur sinar matahari pagi, membatasi penggunaan AC saat tidur dan sirkulasi udara yang baik. Menurunkan panas bisa dengan mandi berendam air hangat, asal tidak demam.
Alhamdulillah dapat dokter yang sejalan dengan keinginan saya.

Sejalan dengan perkembangannya, cobaan makin meningkat. Levelnya sudah bukan soal perawatan dan pemberian makan saja. Tapi juga soal bagaimana berperilaku dan memperlakukan anak.
Anak itu peniru yang ulung. Apa saja yang saya dan suami lakukan kerap ia ikuti.
Jadi benar2 harus hati2. Kata jangan sudah bukan lagi larangan agar anak tidak melakukan sesuatu.

Saja jadi ingat lagi nasihat kawan saya. Kalo ibunya gak kuat gimana anaknya? Kalo ibunya dikit-dikit ngeluh, dikit-dikit marah gimana anaknya? Kalo ibunya gak bisa nahan diri untuk tidak menyampaikan yang ga perlu disampaikan gimana anaknya?

Era saat anak-anak kita dewasa nanti, pastinya akan lebih aneh lagi. Jadi kalo yang kita ciptakan adalah anak yang suka mengeluh, tidak bisa memilah mana yang pantas dan tidak untuk dikonsumsi umum, jadi apa dia nanti?

Yuk kita sama-sama belajar jadi contoh yang baik.
Jadi ibu-ibu yang kuat.
Bukan ibu-ibu yang gampang mengeluh.
Karena bisa jadi keluhan kita itu remeh-temeh bila dibandingkan dengan ibu lain yang tidak seberuntung kita.




- Posted using BlogPress from my iPhone

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada yang mo pasang kawat gigi?

Sambara di Jakarta! :D

i could never be your woman