Senin, 13 April 2015

Ibu cepat saji

24/7
Waktu kerja ala-ala mekdi.
Dari melek mata sampai tidur lagi malam hari.

Badan, pikiran, emosi, semua tercurah untuk pekerjaan yang bayarannya begitu mahal ini.

Bayarannya pahala, bila mampu bekerja sesuai jobdesk dari Allah SWT.
Bayarannya rasa cinta dari buah hati, kalau bisa membuatnya kenyang, nyaman dan merasa dicintai.
Bayarannya ridho dari suami.

Ibu sebenernya gak butuh "me time".
Ibu gak butuh romantis-romantisan dari suami.
Gak butuh apa itu bunga, kado, perhiasan, apalah.

Tapi ibu butuh rasa dicintai. Dulu kami dinikahi karena cinta kan? Karena kami pernah cantik. Sebelum kami gendut, acak-acakan, lupa high-heels, tak pernah menyentuk eyeliner & lipstick.

Dimengerti.
Pekerjaan dikantor dan dirumah sama-sama capek walau berbeda porsinya. Mengertilah!

Dihargai, walau cuma kerja dirumah. Ketemu cucian lagi, kompor lagi, toilet kotor lagi. Tapi hargailah pilihannya untuk melayani. Walau bukan pelayan.

Diberikan kebebasan mengutarakan pikiran, mengeluh, mengomel, apapun itu cara kami mengutarakan pikiran.

Tidak direndahkan, tidak dibunuh karakternya. Dibiarkan berkembang.

Ibu yang tersakiti akan sulit bekerja maksimal.
Ibu yang sedih, akan sulit membuat anak dan suaminya gembira.

Ibu cepat saji. Jiwa raga kami persembahkan 24/7.
Multi tasking untuk semua pekerjan. Tidak pernah mudah.
Jangan pernah bilang kami lelet. Lambat.

Tentu saja ibu cepat saji juga pemaaf. Karena kami bekerja dengan cinta.
Kami sepertinya tak pernah punya hak untuk melarang suami jangan ini jangan itu. Apalagi keluar kalimat "jangan diulang sekali lagi".
Jadi jangan kasar dengan kami.
Apalagi mengancam.
Karena ditangan kami anak-anak kami didik. Ridho Allah untuk suami pun ada sedikit andil kami.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar