Senin, 18 Juli 2011

flirtylicious

Ladies, do you like to flirt? 
I was. 

Namun semenjak menikah, kegemaran flirting ini mendadak terpendam. 
Apa sebab? 
Dulu, setahun yg lalu sebelum menikah pacar saya a.k.a suami saya saat ini sempat marah luar biasa karena sewaktu menjalin hubungan dengannya saya masih suka "beramah tamah" dengan sahabat-sabahat pria saya dengan sapaan babe atau baby. 
Tentunya tidak kesembarang orang saya menyapa begitu. Pada dasarnya, saya bukan wanita kecentilan. "Ramah tamah" bagi saya ada tempatnya :p. 
Panggilan sayang saya daratkan hanya kepada orang-orang dekat yg sudah dalam zona nyaman saya. Kalo soal flirting sih, siapa saja yg cukup layak dan potensial :p 

Kembali ke perihal pacar saya. 
Waktu itu ia begitu marah. Karena katanya, dengan ber-babe2-an saya tidak menganggap statusnya sebagai pacar. Ia pun memberi ultimatum, mulai saat kita menjalin hubungan, saya harus membatasi terlalu "ramah" dengan lelaki lain. Dengan kata lain ia tidak mau saya "kecentilan" dengan lawan jenis. 
Wuih, waktu itu marahnya luar biasa. Dia bilang "aku juga sudah membatasi diri kok dengan teman2 perempuan. Aku juga akrab gak gitu2 banget." 
Huuuft... Entah yah, mungkin karena feeling, bahwa ia akan jadi suami saya, maka saya turuti saja. Bahkan saya secara langsung menuruti yang ia minta termasuk meminta teman2 dekat saya untuk memaklumi perubahan ini. 

Awalnya, agak canggung juga. Tapi karena ia menjanjikan hal yang sama dalam hubungan ini, saya rasa layak dicoba. Ini kan bagian dari saling menghargai. 
Sampai akhirnya kebiasaan flirting sana-sini ikutan hilang. 
Awalnya kadang terbersit, tapi lama-lama otomatis terbiasa. Sikap ini tentu saja dengan kepercayaan penuh bahwa pacar saya juga melakukan hal yang sama. 

Sampai suatu hari saya dapati ia "melayani" curhat masalah pribadi dari seorang teman wanita. Curhat yang benar-benar menguras perasaan. Saat itu semesta mendukung hal ini terjadi, dari mulai HP saya tidak bisa dihubungi, mati total, keadaan terlihat sangat mendesak, dan alasan-alasan lainnya...... 
Waktu itu saya numb. 
Total mati rasa. 
Gatau bagaimana bersikap, bahkan saya memfasilitasi ketika tau.  
Then my ego wakes me up. Hey, look what he did. Despite that my heart was deeply pain, I talk to him long after that thing happen. 

Saya bilang, hal seperti itu harus dipastikan tidak terjadi lagi. Saat itu kami sudah dekat ke pernikahan. Sungguh bodoh kalau sampat hal seperti itu terjadi lagi. 

Jadi saya memberikan satu syarat. Tidak ada lagi dalam hubungan kita pembicaran pribadi lawan jenis dengan salah satu diantara kami. 
Orang tolol juga tau, empati yang berlanjut terus bisa menuju kemana. Apalagi setelah kita menikah nanti. 
Aku ingin menikah dengan lelaki baik tapi berkomitmen. Bukan santa claus. 
Titik. 
Maka sejak saat itu, tiap ada perempuan yang nodong curhat padanya, ia selalu bertanya dulu pada saya. As if he doesn't know the limit. 

Sementara saya sendiri, tombolnya otomatisnya sudah lama diaktifkan. 

In my humble opinion, relation is based on trust. Apalagi pernikahan. Menjaga perasaan satu sama lain yg paling utama. 

Then I said to my self, if he start to flirt again, I'll do the same. 

So ladies, what's your story?

7 komentar:

  1. hai Ayu! long time no see ^^

    senang bacanya bisa saling lugas maunya apa dalam bersikap.. lanjutkan!

    BalasHapus
  2. Berat nih berat...tapi setuju mbak ayu sama sikap yg diambil. Merdeka aah! :D

    BalasHapus
  3. tolong dibantu ya, wuls.... prok-prok-prok :P

    BalasHapus
  4. itu ada masalah self esteem dan self confidence. gak perlu takut kehilangan. semua sudah diatur oleh Tuhan. tapi aku setuju bahwa menghargai komitmen itu sikap yang positif :)

    BalasHapus
  5. Ay... finally.... kamu menulis lagi... :D. Setuju dgn diri mu, ketika kita sdh berkomitmen dgn seseorang maka kita harus menghargai komitmen tsb, termasuk paket-paket di dalam nya... aw, aw, aw.... :))

    BalasHapus
  6. untung gak kawin sama psikolog/konsultan yang kerjaannya emang dengerin orang curhat :)

    BalasHapus